Malam mulai larut, ketika Yolanda
pulang dari tempat les pianonya. Tak seperti biasanya, Yolanda harus berjalan
sendirian di jalanan yang mulai sepi itu, biasanya ia selalu di jemput oleh
mamanya atau papanya. Tapi entah mengapa mama atau papanya belum menjemputnya,
padahal malam sudah semakin larut. Sehingga Yolanda terpaksa berjalan menuju
rumahnya yang berjarak beberapa blok dari tempat lesnya. Ketika dia tengah
berjalan, tiba – tiba dia melihat sesosok bayangan yang melintas di depanya,
Yolanda terkejut ia melihat ke kanan ke kiri tapi tidak ada siapa – siapa, dia
mencoba menoleh ke belakang tetapi tetap saja tidak ada siapa – siapa, dengan
sedikit gelisah dan sedikit pertanyaan apa yang melintas dihadapanya, Yolanda
kembali meneruskan perjalanannya. Tetapi baru beberapa langkah dia berjalan
tiba – tiba dia mendengar suara seorang anak perempuan sedang menangis. Yolanda
mencoba mencari – cari dimana kira – kira asal suara itu. Tak jauh dari tempat
dia berdiri samar – samar dia melihat sesosok anak perempuan berbaju merah muda
tengah duduk sendirian di tepi jalan sambil mendekap boneka panda kecilnya erat
– erat, sambil terus menangis. Dengan dada yang berdegup kencang Yolanda
memberanikan diri menyapa anak perempuan itu.“
Hai, ada apa, sedang apa kamu disini ? “ Anak perempuan itu menoleh
kearah Yolanda, tapi dia tidak berkata apa – apa, kemudian dia menutup wajahnya
dengan kedua tangannya sambil terus menangis. Yolanda mulai bingung apa yang
harus dia lakukan, kemudian Yolanda mencoba bertanya lagi.
“ Kenapa kamu menangis, apa kamu tersesat dan
tidak tau jalan pulang ? “ Tiba – tiba anak itu menjawab “ Tidak “ Tetapi dia tetap menutup wajahnya
dengan kedua tangannya. “ Apa yang bisa aku bantu ? ” Tanya Yolanda. Dia
menjawab “ Tidak, kamu tidak akan bisa
membantuku “. Yolanda mencoba duduk di sebelah anak perempuan itu, sambil
memegang tangannya, Yolanda berkata “ Katakan apa kesulitanmu, dan dimana
rumahmu, siapa tau aku bisa membantumu, hari sudah malam bagaimana kalau kedua orang
tuamu mencarimu, kasihan mereka, pasti mereka sedang mencemaskan kamu, mari aku
antar kamu pulang kalau kamu takut untuk pulang sendirian “. Mata anak
perempuan itu menatap tajam kearah Yolanda, dan membuat bulu kuduk Yolanda
merinding, kemudian dia berkata “ Nama saya Melani, saya tinggal di jalan
Melati, kira – kira lima blok dari sini, lalu siapa namamu ? “ dia bertanya
pada Yolanda. “ Yolanda, saya tinggal di jalan semangka, rumahku tak jauh dari
sini, o.. iya sedang apa kamu disini ? “ Tanya Yolanda pada Melani, belum
sempat Melani menjawab, Yolanda mendengar mamanya memanggil “ Yolanda kenapa
duduk disini, maaf mama sama papa tadi ke dokter dulu, jadi terlambat
menjemputmu, maafin mama ya sayang “ . “ Iya ma gak papa “ jawab Yolanda. “ ya
sudah ayo cepat naik ke mobil “ kata mama Yolanda. “ iya ma sebentar, o iya ma
temen Yolan biar ikut sekalian ya ma, bolehkan nanti kita antar dia dulu,
rumahnya gak jauh kok, itu di jalan melati katanya “ pinta Yolanda, mama
Yolanda tampak bingung “ Temen Yolan ? mana ? bukannya Yolan dari tadi
sendirian disini “ jawab mamanya, Yolanda juga jadi bingung karena Melani sudah
tidak ada disana, Yolanda berkata “ loh tadi ada tu “ sambil dia melangkah
menuju mobilnya. Karena Yolanda merasa begitu lelah, dia pun tertidur di bangku
belakang mobilnya, dengan susah payah papanya menggendongnya menuju kamarnya,
mamanya melepaskan sepatu Yolanda dan menyelimutinya, mamanya tau Yolanda pasti
sudah sangat mengantuk dan lelah. Keesokan paginya Yolanda bergegas berangkat
ke sekolah dengan diantar oleh papanya, sampai di depan pintu gerbang
sekolahnya dia melihat Melani tengah berdiri di samping pintu gerbang
sekolahnya, karena sekolah sudah hampir masuk Yolanda tidak sempat berbincang
dengan Melani, dia hanya bisa menyapa “ Hai Melani, kamu disini, maaf sudah
hampir masuk, nanti kita ngobrol lagi ya “, sambil dia berlari buru – buru
masuk ke ruang kelasnya, dalam hati dia berkata “ apa Melani belum pulang
kerumahnya ya, kok bajunya masih sama, apa dia tidak sekolah ?, ah biarlah mungkin
nanti aku bisa bertemu lagi dengannya “
desah Yolanda dalam hati. Bel berbunyi tanda berakhir pelajaran, Yolanda
bergegas ke luar sekolahnya, tapi dia tidak lagi melihat Melani disana. Tak
lama mamanya datang menjemputnya, Yolanda bergegas naik ke mobil dan berangkat
pulang kerumahnya, begitu juga keesokan paginya ketika Yolanda sampai di
sekolahnya, kembali Yolanda melihat Melani ada di tempat yang sama seperti
kemarin, kali ini Yolanda mencoba menghampiri dan bertanya “ kamu belum pulang
Mel ? , kenapa kemarin kamu tidak ada sewaktu aku pulang sekolah, aku mencari –
cari kamu lo “ kata Yolanda, Melani hanya tersenyum tipis, “ Melan nanti kalau
aku pulang sekolah, kamu kesini lagi ya, supaya kita bisa ngobrol “, “ iya “
jawab Melani. Akan tetapi ketika Yolanda pulang Melani juga tidak ada disana,
setelah mamanya datang, Yolanda langsung naik ke mobilnya dan kembali pulang
kerumahnya, setelah mengantarnya pulang mamanya kembali ke kantor karena mama
Yolanda biasa bekerja sampai malam hari. Setelah selesai makan siang yang sudah
disiapkan bik Darsih, Yolanda pun masuk ke kamarnya untuk beristirahat, tapi
alangkah terkejutnya dia melihat Melani sudah ada di kamarnya, dia duduk di
pojok kamar Yolanda. “ Melani “ kata Yolanda, “ kenapa kamu bisa ada disini,
apa yang kamu lakukan, dan siapa yang membawamu masuk ke kamarku, apa bik
Darsih ? “, “ bukan “ jawab Melani, ” aku mengikutimu tadi dan maaf karena aku
sudah masuk ke kamarmu tanpa seizinmu “ jawab melani, “ iya “ jawab Yolanda, “
kenapa kamu tidak pulang kerumahmu, pasti orang tuamu memcemaskan kamu, kamu
tidak kasihan dengan mereka, pulanglah Melan, kasian orang tuamu “ Yolanda
mencoba membujuknya. Tapi Melani malah menangis tersedu – sedu, membuat Yolanda
semakin bingung. “ Ya sudah “ kata Yolanda, “ Diamlah, diamlah Melan, katakan
padaku apa yang membuatmu seperti ini, bisakah kau ceritakan padaku ? “ kata
Yolanda lagi. “ Tolonglah aku Yolan “ jawab Melani, “ Tolong aku, aku mohon
padamu tolonglah aku “ sambil terisak Melani terus memohon, “ iya, iya aku
pasti akan menolongmu, katakan apa yang bisa aku bantu, ceritakan apa sebenarnya
masalahmu “ jawab Yolanda. “ Sungguh kau mau mendengarkan ceritaku “ Tanya
Melani, “ Iya katakanlah “ jawab Yolanda. Lalu Melani mulai bercerita tentang
dirinya. “ Papaku seorang kapten marinir angkatan laut, mamaku seorang
pramugari, dulu hidup kami sangat bahagia tapi semenjak tante Elena datang ke
rumah kami, hidup kami jadi berantakan. Tante Elena adalah adik
sepupu dari mamaku, orangnya cerewet dan selalu berpakaian sexy, apalagi kalok
papaku sedang libur aku sering melihat tante Elena bersikap manja sama papaku,
apalagi kalok mama sedang tidak ada, papa dan tante Elena tampak akrab sekali,
aku tidak terlalu tau atau mengerti apa yang terjadi, yang ku tau semenjak itu
papa dan mama sering bertengkar, kadang sampai saling lempar perabotan, tak
lama dari itu tante Elena pergi meninggalkan rumah kami, tetapi papa ataupun mama malah jadi jarang pulang, aku selalu di tinggal
sendirian dengan bibik, pembantu di rumahku. Aku sangat sedih dan selalu merasa
kesepian tapi aku juga tidak berani melarang ataupun bertanya pada mereka
tentang apa yang membuat kedua orang tuaku seperti itu . Akhirnya mama mau juga
bicara denganku dengan wajah yang begitu sedih mama mencoba menjelaskan padaku kalau papa dan
mama akan bercerai, aku sedih sekali mendengarnya, aku memohon kepada mereka
berdua agar tidak berpisah, tapi apa dayaku, karena terkadang orang tua hanya
mementingkan perasaan mereka sendiri, tanpa memperdulikan parasaan anak – anak
seperti kita ini, selang waktu tak
berapa lama mereka benar – benar bercerai, aku syok berat, sampai – sampai aku tidak masuk sekolah dua minggu lamanya. “ lalu
apa yang terjadi “ Tanya Yolanda “ kenapa kamu tidak berusaha untuk tegar dan
mencoba untuk mengerti tentang situasi yang tengah mereka hadapi dan tidak harus meninggalkan sekolahmu kan “ Yolanda mencoba memberi saran. “saya sakit keras
sampai – sampai harus di rawat di ruang ISU saya sering tak sadarkan diri dan
selalu memanggil – manggil nama mamaku, saya sering berteriak – teriak jangan bercerai – jangan bercerai,
Melan mohon mama,papa, Melan mohon” setiap hari saya selalu mengigau begitu dan
setelah keadaan saya mulai membaik dan mulai sadarkan diri saya melihat mama
dan papa menangis di sampingku mereka berkata “ sembuhlah Melan sembuhlah
sayang mama dan papa janji tidak akan pernah membuat Melan sedih lagi “ jawab
Melan “ benarkah ? , bisakah mama dan papa tidak berpisah “ pintaku pada mereka
“ iya Melan demi Melan kami akan rujuk kembali, tapi Melan harus sembuh, ya
sayang “ Melani terisak dia menjawab “ iya Melan pasti akan sembuh jika mama
dan papa tidak akan pernah berpisah dan kita akan selalu hidup bersama “ kemudian keadaan saya mulai membaik dan
dokter pun sudah memperbolehkanku
pulang, senang rasanya kembali kerumah dan melihat mama dan papa selalu bersama
dan terlihat begitu bahagia. Saya tidak penah tau jika bersatunya kembali mama
dan papaku membuat tante Elena marah besar terhadapku, aku baru tau dua bulan setelah itu karena tante Elena datang
kerumahku dan kebetulan aku sedang sendirian di rumah, mama dan papaku pergi
bekerja untuk beberapa hari sedang bibik pembantu di rumahku pergi ke pasar dan
kebetulan hari itu hari minggu jadi aku
tidak masuk sekolah, aku melihat
tante Elena masuk kerumahku bersama seorang temannya yang setauku bernama
Prambudi dan tante Elena memanggilnya dengan sebutan Pram. Tante Elena memanggil
– manggil mamaku dan karena saya tau mama sedang tidak ada dirumah saya pun
keluar dari kamar dan menemui tante Elena “mama terbang ke paris tante lusa
baru pulang “ jawab ku “lalu papamu “ Tanya Tanya tante Elena “papa berlayar “
jawabku lagi “ wah bagus Pram ini saat yang aku tunggu –tunggu mereka tidak ada
di rumah “ kata tante Elena kepada temannya itu, kemudian tante Elena dan om
Pram naik ke atas menuju kamar mama dan papa, dan tanpa berpikir panjang mereka
mengobrak abrik tempat itu seperti sedang mencari sesuatu , saya pun berteriak
“ apa yang tante lakukan, apa yang tante
cari kenapa kamar mama tante berantakin
seperti ini “ tanyaku sambil berteriak
panik “diam !” tante Elena membentaku
keras sekali “diam, jangan katakan
apapun karena kamu hanya anak kecil kamu tidak akan pernah tau jadi jangan banyak bertanya mengerti !” wajah tante Elena berubah jadi
sangat menyeramkan ketika dia mengucapkan kata – kata itu. “ini dia Elena sudah
aku temukan “ tiba –tiba om Pram berteriak “ o ya, sudah kau temukan “ Tanya
tante Elena “ iya sudah semuanya, surat – surat tanah, rumah pokoknya lengkap
semua ada di sini “ jawab om Pram “ dan ada lagi kotak ini penuh dengan perhiasan
mahal Elena apa mau kita ambil juga “ Tanya om Pram “tentu, juga semua uang
yang ada di brangkas itu kita bawa saja semuanya “ jawab tante Elena sambil
tersenyum sinis . aku pun berteriak “ jangan tante jangan mau tante bawa kemana
semuanya itu “ tanyaku sambil
menangis “nantik mama dan papa gimana
tante “ saya mencoba memohon “itu bukan urusan tante “ jawab tante Elena sambil
menarik tanganku keluar kamar sementara om Pram membawa semua surat – surat
uang dan perhiasan milik kami ke luar rumah mungkin menuju mobilnya “kamu tau
Melan “ teriak tante Elena “gara – gara kamu tante tidak jadi menikah dengan
papamu, kamu benar – benar menjadi penghalang buat tante “ tante Elena
menjambak rambutku kuat sekali aku pun berteriak “ sakit tante aduh sakit “
tapi tante Elena tidak mau melepasku malah dia memukulku berulang kali sambil terus
berteriak dan memaki –makiku, aku hampir
tidak bisa mendengar apa yang dia ucapkan karena kerasnya pukulan tangannya
benar – benar menyakiti tubuhku, sambil menangis aku mencoba terus memohon agar tante Elena berhenti
memukulku , akhirnya dia berhenti memukulku tapi matanya menatap tajam ke
arahku dengan penuh kebencian, tiba – tiba tante Elena mendorongku kuat sekali
sambil berteriak “ pergi dari hadapanku, pergi !” hahh tubuhku terpental lalu jatuh dari balkon
rumahku ke lantai bawah, kepalaku membentur lantai begitu keras sehingga darah
banyak sekali yang keluar dari luka dikepalaku, dan bersamaan dengan itu bibik
pulang dan sempat melihatku terjatuh dari lantai dua rumahku, begitu juga
dengan om Pram dia berteriak “ Elena apa yang kamu lakukan !! “ , bibik
mendekap tubuhku erat – erat sambil menangis “ Tolong,tolong mbak Elena tolong non Melan, non Melan harus di bawa ke dokter, tolong bawa
non melan ke dokter , bagaimana ini. Teriak bibik sambil menangis tersedu –
sedu . “non bangun non, non melan bangun “ isak bibik begitu menyayat. Om Pram
mendekatiku lalu memeriksa denyut nadiku detak jantungku juga nafasku , lalu om
Pram berkata “ dia sudah tidak ada, dia sudah mati Elena “ dengan wajah yang cemas dan bingung
dia mencoba menerangkan, tante Elena ikut memeriksa tubuhku dan dia pun jatuh
bersimpuh lemas, dia benar – benar tidak mengira apa yang sudah dia lakukan
padaku sudah membuatku celaka dan meninggal . Lalu tante Elena mulai panik dan
gelisah dia Nampak kebingungan tiba – tiba dia berkata “ bangun bik,bangun,
bangun kataku cepat , cepat bereskan semua
pakaian bibik, dan pulanglah ke kampung bibik sana, dan jangan pernah
kembali lagi ke rumah ini “ kata tante Elena sambil terus terlihat panik,
“pergilah bik, bibik tidak dengar, apa bibik mau mati juga seperti melani !”
tante Elena berteriak lagi kali ini bibik benar – benar merasa ketakutan lalu
bergegas pergi ke kamarnya untuk mengambil semua barang miliknya sambil terus
menangis. Kemudian bibik keluar dan mendekati tante Elena , tante Elena
menatapnya dengan tajam lalu berkata “dengar bik, pura – puralah bibik tidak
pernah tau kejadian ini, aku akan mengurus semuanya, keluarlah dari sini dan
bila sampai ada orang yang tau masalah ini, saya tidak akan segan – segan lagi,
saya akan membunuh bibik dengan cara yang lebih kejam lagi dari pada ini, jadi
jangan pernah coba – coba untuk
melaporkan saya kalau bibik tidak mau celaka, karena pasti saya akan melakukanya,
mengerti bik ! “ ancam tante Elena kepada bibik, bibik sangat ketakutan sekali
diapun buru – buru pergi meninggalkan rumah kami dengan wajah yang pucat pasi.
“ eh tunggu – tunggu “ tiba - tiba
Yolanda menyela dengan rasa penasarannya, “ kamu bilang kamu jatuh dari lantai
dua rumahmu dan langsung mati, mati begitu?,
meninggal maksud kamu, aku masih tidak mengerti “ Yolanda menjadi agak
bingung dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja di ceritakan oleh
teman barunya itu dia mencoba untuk mengerti tapi itu semakin membuatya lebih
penasaran lagi. “ jelaskan padaku Melan aku tidak mengerti. “ iya Yolan memang
aku meninggal pada saat itu juga “ jawab Melani lirih “ lalu bagaimana kamu bisa
melihat semua yang terjadi pada saat itu kalau memang kamu sudah meninggal “
Tanya Yolanda semakin penasaran “ itulah aku juga tidak mengerti ternyata jika
kita meninggal nyawa kita keluar dari tubuh kita dan bisa melihat jelas semua
yang terjadi pada diri kita setelah mati “jawab melani mencoba menjelaskan “
o.. jadi begitu “ Yolanda bergumam dengan wajah bingungnya “ lalu apa ? jadi kamu ini apa, jelaskan padaku kenapa
kamu bisa ada disini dan bagaimana aku bisa melihatmu jika kamu bukan manusia,
kamu tampak nyata bukan seperti arwah gentayangan bukanya kalau hantu itu punya
wajah yang menyeramkan, dan kata orang hantu itu cuman bisa menampakan diri
pada malam hari, karna katanya dia akan terbakar oleh cahaya matahari tapi
kenapa kamu tidak, bagaimana aku bisa percaya dengan semua ceritamu “ Tanya
Yolanda lagi “ aku juga tidak tau mungkin Tuhan memberikan kekuatan yang lebih
padaku agar bisa menemuimu kapan pun aku mau kalau kamu masih tidak percaya
tanyalah pada bik darsih, karna dia adalah saksi dari semua yang terjadi
padaku, dia tau semuanya karena dia
pernah bekerja di rumahku “ jawab Melani “ bik darsih ? “ Tanya Yolanda semakin
bingung “ iya, benar “ jawab melani “bik darsih yang sekarang bekerja di
rumahmu adalah bibik pembantu yang pernah bekerja di rumahku “ melani mencoba
menjelaskan “ Oo.. iya aku mengerti sekarang, lalu apa yang selanjutnya terjadi padamu
setelah itu “ Tanya Yolanda serius “ tante Elena dan om Pram mengubur jasadku
dibelakang rumahku, kebetulan ada galian buat WC karena WC yang lama dirumahku
sudah tidak bisa di pakai lagi dan tukang bangunanya belum sempat mengecor
bagian atasnya baru besok tukang itu bisa mengerjakan lagi, dan keesokan
harinya ketika tukang itu datang mereka
sempat bertanya kenapa bagian bawahnya dikasih semen dan siapa yang
mengerjakanya, tante Elena bilang “ o itu
tidak apa – apa teman saya yang mengerjakanya dia iseng aja daripada gak
ada yang dikerjakan “ jawab tante Elena , kemudian tante Elena menyuruh tukang
– tukang itu secepatnya mengecor bagian atasya “ cepet pak nantik keburu ujan “
kata tante Elena tanpa berpikir panjang mereka lansung menyelesaikan
pekerjaanya, dan setelah selesai tante Elena memberi upah yang lebih pada
mereka dan menyuruh agar mereka tidak usah kembali lagi kerumahku , semua karena
mama dan papa tidak ada jadi tante Elena bisa leluasa melakukan semua
rencananya. Kemudian tante Elena dan om
Pram meninggalkan rumahku seperti tidak pernah terjadi apa – apa. Dalam suasana
yang begitu mencekam tiba – tiba mama Yolanda sudah berdiri didepan Yolanda,
dan bertanya “ Yolan sepertinya mama mendengar Yolan tengah berbincang –
bincang dengan seseorang, tapi kok gak ada siapa – siapa disini ? “ Tanya mama
Yolanda, “ eh mama, sudah pulang ma, Yolan sampai gak tau, em itu ma ada tugas
menghafal perbincangan dari sekolah, Yolan pikir mudah, ternyata susah juga “
kilah Yolanda. “ O… begitu ya sudah tidurlah hari sudah malam, beok harus
bangun lebih pagi biar tidak terburu – buru kalau mau berangkat sekolah “
mamanya berkata, “ iya ma “ jawab Yolanda. Dan sejak itu mama Yolanda sering
melihat Yolanda berbicara sendirian sehingga terkadang membuat mamanya bingung
dan penasaran, mama Yolanda mencoba bertanya pada bik Darsih “ Apakah Yolanda
memang sering berbicara sendiri seperti
yang dilihat oleh mamanya ? “ , “ iya bu, bibik juga heran terkadang non Yolan
sampai menangis lo bu, tapi ketika bibik tanya katanya cuman latihan akting
begitu “ , “ ya sudah “ jawab mama Yolanda . “ Nanti kalau saya ada waktu luang
saya akan coba untuk mengajak Yolanda bicara, ya sudah bik ibu pergi dulu ya,
jaga rumah baik – baik dan jangan lupa jaga Yolanda “ , “ iya bu “ jawab bik Darsih. Setelah mamanya
pergi Yolanda segera menemui bik Darsih, “ bik “ panggil Yolanda “ iya non, ada
apa, non butuh sesuatu ? “tanya bik Darsih, “ tidak, cuman ada yang mau Yolan
tanyakan pada bibik, apa bibik masih sibuk ? “ jawab Yolanda, “ tidak non,
semua pekerjaan sudah bibik selesaikan, tinggal kalau non mau makan siang nanti
bibik siapkan “ jawab bik Darsih, “ ah, tidak bik nanti aja makanya, sini bik
duduk sini “ kata Yolanda. “ Bik, dulu sebelum bibik bekerja di rumah Yolan,
dimana bibik pernah bekerja ? “ tanya Yolan, “ ah, bibik pernah bekerja di … “
bik Darsih tampak bingung “ Di…, ah jauh non, memang kenapa sih non, kok non
Yolan tanya begitu “ tanya bik Darsih, “ apa majikan bibik ada yang bernama
Melani ? “ tanya Yolanda tegas, “ Non non Melani ?? “ tanya bibik mulai cemas,
“ dari mana non Yolan tau tentang non Melan, bukannya bibik tidak pernah
bercerita apa pun sama non Yolan “ tanya bibik semakin cemas, “ Bik “ panggil
Yolan, “ Melani sendiri yang cerita sama Yolan kalau bibik pernah bekerja
dirumahnya “ jawab Yolan, “ non Melan…? Bagaimana bisa non Yolan kenal dengan
non Melan, bukannya … bukannya “ wajah bibik yang tampak bingung berubah
menjadi begitu sedih, air matanya mulai tampak berlinang, “ Bik “ panggil Yolanda “ Melani ada disini “
Yolan mencoba memberi tau “ disini “ jawab bik Darsih “ gak mungkin non, gak
mungkin karena non Melan sudah, sudah “ bibik berkata terbata – bata, “ sudah
meninggal maksud bibik “ jawab Yolanda, “ iya, iya non, non Melan sudah
meninggal “, tangisan bik Darsih mulai pecah, dia menangis tersedu – sedu
teringat semua kejadian pada waktu itu, “ bik, percayalah Melani ada disini,
dia ada di dekat bibik dan mencoba memeluk bibik “ Yolanda menjelaskan, “
dimana non, dimana bibik tidak bisa melihatnya, apa benar non ada disini “,
tiba – tiba bolpoint yang ada di meja menuliskan sesuatu, Melani mencoba
menjelaskan lewat selarik kertas tentang keberadaannya yang membuat bik Darsih
tambah terisak. “ Bik kita harus jelaskan sama mama, apa yang terjadi pada
Melan, kasihan mama bik, mama benar – benar terlihat putus asa, kita harus
jelaskan bik “ tulis Melani pada kertas itu. Sekarang bibik mulai percaya bahwasannya
Melani memang ada di rumah Yolanda dan bibik Darsik berjanji akan mengatakan
semuanya pada kedua orang tua Melani. Dan pada ketika mama Yolan menanyakan
padanya kenapa Yolanda sering terlihat berbicara sendirian, Yolanda juga
mencoba memberi tau tentang keberadaan Melani di rumahnya, awalnya mamanya
tidak percaya dengan penjelasan Yolanda, bahkan mamanya menganggap Yolanda
terlalu banyak berhalusinasi. Lalu Yolanda menyuruh Melani menunjukkan
keberadaannya dengan cara menulis tentang siapa dirinya pada selembar kertas
seperti yang dia lakukan pada bik Darsih. Walau sedikit syok, tapi mama Yolanda
mencoba untuk mempercayainya, mama Yolanda juga berjanji akan membantu Melani
untuk menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga Melani. Karena ternyata selama
ini orang tua Melani menganggap bik Darsih orang yang telah mencelakakan
Melani, karena ternyata di karpet bludru ruang tamu Melani masih di temukan
bercak darah yang tidak sempat dibersihkan oleh tante Elena pada waktu kejadian
itu, semenjak Melani menghilang mamanya seperti orang yang tidak punya semangat
hidup, dia bahkan keluar dari pekerjaannya sebagai pramugari, setiap hari mama
Melani hanya melamun dan menangis karena terus menerus teringat pada Melani “
dimana dia, apa yang terjadi padanya “ dia terus mengucap kata itu berulang –
ulang setiap saat dan waktu, sudah bermacam cara yang papa Melani lakukan
supaya mama Melani bisa hidup normal kembali, sampai – sampai papa Melani juga
memutuskan hanya bekerja di kantor TNI AL saja agar mempunyai lebih banyak
waktu bersama keluarganya, padahal mama Melani baru melahirkan seorang bayi
perempuan yang juga cantik seperti Melani, tetapi mama Melani tampak seperti
tidak perduli dengan bayi mungil itu, dan itulah yang membuat Melani sedih,
seandainya bisa, Melani ingin menjelaskan semuanya pada mamanya dan memohon
padanya agar menyayangi adik kecilnya sama seperti menyayanginya. Akhirnya
dengan bantuan kedua orang tua Yolanda juga bik Darsih yang datang kekediaman
keluarga Melani dan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, juga
dengan dua orang tukang bangunan yang pernah dilarang untuk datang kerumah
Melani lagi, bisa membuat kedua orang tua Melani mengetahui apa yang sebenarnya
terjadi, walau pada awalnya mereka begitu syok dan mama Melani sempat menangis
histeris sampai berhari – hari lamanya, dan akhirnya dengan kata – kata yang
ditulis Melani, tentang segala keinginan membuat mama Melani sadar dan mencoba
untuk bisa menerima segala yang sudah terjadi dengan ikhlas dan berbesar hati.
Kemudian mereka melaporkan tante Elena dan om Pram ke polisi, tak sampai satu
minggu mereka sudah tertangkap dan diberi hukuman yang setimpal dengan
perbuatannya, kini Melani sudah bisa pergi dengan tenang menghadap Illahi, apa
lagi jasadnya sudah digali dan dipindahkan ke pemakaman umum dan dimakamkan
secara layak, dan kedua orang tuanya sudah mengikhlaskan kepergiannya, apa lagi
sudah ada Melani kecil di tengah – tengah mereka, yang tampak lucu dan
menggemaskan, Melani mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Yolanda
juga keluarganya Yolanda juga bisa bernafas lega karena sudah bisa membantu
Melani dan membuat keluarganya hidup normal dan bahagia kembali. Yolanda
kembali menjalani hidupnya seperti biasanya, dan malam ini mama dan papanya
terlambat menjemputnya lagi dari tempat Lesnya, tapi kali ini Yolanda tetap
menunggu di teras rumah gurunya, dia tidak mau lagi berjalan sendiri menuju
rumahnya, bukannya karena dia takut bertemu Melani – Melani yang lainnya, tapi
karena Yolanda sudah kelelahan dan mengantuk sehingga dia tidak sanggup untuk
berjalan kaki lagi. Tak lama kemudian mama dan papanya datang menjemputnya,
Yolanda segera bergegas masuk ke dalam mobilnya dan langsung melaju menuju
rumahnya.