Sabtu, 08 September 2012

Sahabat Dari Dunia Lain


Malam mulai larut, ketika Yolanda pulang dari tempat les pianonya. Tak seperti biasanya, Yolanda harus berjalan sendirian di jalanan yang mulai sepi itu, biasanya ia selalu di jemput oleh mamanya atau papanya. Tapi entah mengapa mama atau papanya belum menjemputnya, padahal malam sudah semakin larut. Sehingga Yolanda terpaksa berjalan menuju rumahnya yang berjarak beberapa blok dari tempat lesnya. Ketika dia tengah berjalan, tiba – tiba dia melihat sesosok bayangan yang melintas di depanya, Yolanda terkejut ia melihat ke kanan ke kiri tapi tidak ada siapa – siapa, dia mencoba menoleh ke belakang tetapi tetap saja tidak ada siapa – siapa, dengan sedikit gelisah dan sedikit pertanyaan apa yang melintas dihadapanya, Yolanda kembali meneruskan perjalanannya. Tetapi baru beberapa langkah dia berjalan tiba – tiba dia mendengar suara seorang anak perempuan sedang menangis. Yolanda mencoba mencari – cari dimana kira – kira asal suara itu. Tak jauh dari tempat dia berdiri samar – samar dia melihat sesosok anak perempuan berbaju merah muda tengah duduk sendirian di tepi jalan sambil mendekap boneka panda kecilnya erat – erat, sambil terus menangis. Dengan dada yang berdegup kencang Yolanda memberanikan diri menyapa anak perempuan itu.“  Hai, ada apa, sedang apa kamu disini ? “ Anak perempuan itu menoleh kearah Yolanda, tapi dia tidak berkata apa – apa, kemudian dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil terus menangis. Yolanda mulai bingung apa yang harus dia lakukan, kemudian Yolanda mencoba bertanya lagi.
  Kenapa kamu menangis, apa kamu tersesat dan tidak tau jalan pulang ? “ Tiba – tiba anak itu menjawab “  Tidak “ Tetapi dia tetap menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “ Apa yang bisa aku bantu ? ” Tanya Yolanda. Dia menjawab  “ Tidak, kamu tidak akan bisa membantuku “. Yolanda mencoba duduk di sebelah anak perempuan itu, sambil memegang tangannya, Yolanda berkata “ Katakan apa kesulitanmu, dan dimana
 rumahmu, siapa tau aku bisa membantumu, hari sudah malam bagaimana kalau kedua orang tuamu mencarimu, kasihan mereka, pasti mereka sedang mencemaskan kamu, mari aku antar kamu pulang kalau kamu takut untuk pulang sendirian “. Mata anak perempuan itu menatap tajam kearah Yolanda, dan membuat bulu kuduk Yolanda merinding, kemudian dia berkata “ Nama saya Melani, saya tinggal di jalan Melati, kira – kira lima blok dari sini, lalu siapa namamu ? “ dia bertanya pada Yolanda. “ Yolanda, saya tinggal di jalan semangka, rumahku tak jauh dari sini, o.. iya sedang apa kamu disini ? “ Tanya Yolanda pada Melani, belum sempat Melani menjawab, Yolanda mendengar mamanya memanggil “ Yolanda kenapa duduk disini, maaf mama sama papa tadi ke dokter dulu, jadi terlambat menjemputmu, maafin mama ya sayang “ . “ Iya ma gak papa “ jawab Yolanda. “ ya sudah ayo cepat naik ke mobil “ kata mama Yolanda. “ iya ma sebentar, o iya ma temen Yolan biar ikut sekalian ya ma, bolehkan nanti kita antar dia dulu, rumahnya gak jauh kok, itu di jalan melati katanya “ pinta Yolanda, mama Yolanda tampak bingung “ Temen Yolan ? mana ? bukannya Yolan dari tadi sendirian disini “ jawab mamanya, Yolanda juga jadi bingung karena Melani sudah tidak ada disana, Yolanda berkata “ loh tadi ada tu “ sambil dia melangkah menuju mobilnya. Karena Yolanda merasa begitu lelah, dia pun tertidur di bangku belakang mobilnya, dengan susah payah papanya menggendongnya menuju kamarnya, mamanya melepaskan sepatu Yolanda dan menyelimutinya, mamanya tau Yolanda pasti sudah sangat mengantuk dan lelah. Keesokan paginya Yolanda bergegas berangkat ke sekolah dengan diantar oleh papanya, sampai di depan pintu gerbang sekolahnya dia melihat Melani tengah berdiri di samping pintu gerbang sekolahnya, karena sekolah sudah hampir masuk Yolanda tidak sempat berbincang dengan Melani, dia hanya bisa menyapa “ Hai Melani, kamu disini, maaf sudah hampir masuk, nanti kita ngobrol lagi ya “, sambil dia berlari buru – buru masuk ke ruang kelasnya, dalam hati dia berkata “ apa Melani belum pulang kerumahnya ya, kok bajunya masih sama, apa dia tidak sekolah ?, ah biarlah mungkin nanti aku bisa bertemu  lagi dengannya “ desah Yolanda dalam hati. Bel berbunyi tanda berakhir pelajaran, Yolanda bergegas ke luar sekolahnya, tapi dia tidak lagi melihat Melani disana. Tak lama mamanya datang menjemputnya, Yolanda bergegas naik ke mobil dan berangkat pulang kerumahnya, begitu juga keesokan paginya ketika Yolanda sampai di sekolahnya, kembali Yolanda melihat Melani ada di tempat yang sama seperti kemarin, kali ini Yolanda mencoba menghampiri dan bertanya “ kamu belum pulang Mel ? , kenapa kemarin kamu tidak ada sewaktu aku pulang sekolah, aku mencari – cari kamu lo “ kata Yolanda, Melani hanya tersenyum tipis, “ Melan nanti kalau aku pulang sekolah, kamu kesini lagi ya, supaya kita bisa ngobrol “, “ iya “ jawab Melani. Akan tetapi ketika Yolanda pulang Melani juga tidak ada disana, setelah mamanya datang, Yolanda langsung naik ke mobilnya dan kembali pulang kerumahnya, setelah mengantarnya pulang mamanya kembali ke kantor karena mama Yolanda biasa bekerja sampai malam hari. Setelah selesai makan siang yang sudah disiapkan bik Darsih, Yolanda pun masuk ke kamarnya untuk beristirahat, tapi alangkah terkejutnya dia melihat Melani sudah ada di kamarnya, dia duduk di pojok kamar Yolanda. “ Melani “ kata Yolanda, “ kenapa kamu bisa ada disini, apa yang kamu lakukan, dan siapa yang membawamu masuk ke kamarku, apa bik Darsih ? “, “ bukan “ jawab Melani, ” aku mengikutimu tadi dan maaf karena aku sudah masuk ke kamarmu tanpa seizinmu “ jawab melani, “ iya “ jawab Yolanda, “ kenapa kamu tidak pulang kerumahmu, pasti orang tuamu memcemaskan kamu, kamu tidak kasihan dengan mereka, pulanglah Melan, kasian orang tuamu “ Yolanda mencoba membujuknya. Tapi Melani malah menangis tersedu – sedu, membuat Yolanda semakin bingung. “ Ya sudah “ kata Yolanda, “ Diamlah, diamlah Melan, katakan padaku apa yang membuatmu seperti ini, bisakah kau ceritakan padaku ? “ kata Yolanda lagi. “ Tolonglah aku Yolan “ jawab Melani, “ Tolong aku, aku mohon padamu tolonglah aku “ sambil terisak Melani terus memohon, “ iya, iya aku pasti akan menolongmu, katakan apa yang bisa aku bantu, ceritakan apa sebenarnya masalahmu “ jawab Yolanda. “ Sungguh kau mau mendengarkan ceritaku “ Tanya Melani, “ Iya katakanlah “ jawab Yolanda. Lalu Melani mulai bercerita tentang dirinya. “ Papaku seorang kapten marinir angkatan laut, mamaku seorang pramugari, dulu hidup kami sangat bahagia tapi semenjak tante Elena datang ke rumah kami, hidup  kami  jadi berantakan. Tante Elena adalah adik sepupu dari mamaku, orangnya cerewet dan selalu berpakaian sexy, apalagi kalok papaku sedang libur aku sering melihat tante Elena bersikap manja sama papaku, apalagi kalok mama sedang tidak ada, papa dan tante Elena tampak akrab sekali, aku tidak terlalu tau atau mengerti apa yang terjadi, yang ku tau semenjak itu papa dan mama sering bertengkar, kadang sampai saling lempar perabotan, tak lama dari itu tante Elena pergi meninggalkan rumah kami, tetapi  papa ataupun mama malah  jadi jarang pulang, aku selalu di tinggal sendirian dengan bibik, pembantu di rumahku. Aku sangat sedih dan selalu merasa kesepian tapi aku juga tidak berani melarang ataupun bertanya pada mereka tentang apa yang membuat kedua orang tuaku seperti itu . Akhirnya mama mau juga bicara denganku dengan wajah yang begitu sedih  mama mencoba menjelaskan padaku kalau papa dan mama akan bercerai, aku sedih sekali mendengarnya, aku memohon kepada mereka berdua agar tidak berpisah, tapi apa dayaku, karena terkadang orang tua hanya mementingkan perasaan mereka sendiri, tanpa memperdulikan parasaan anak – anak seperti kita  ini, selang waktu tak berapa lama mereka benar – benar bercerai, aku syok berat, sampai – sampai aku  tidak masuk sekolah dua minggu lamanya. “ lalu apa yang terjadi “ Tanya Yolanda “  kenapa kamu tidak berusaha untuk tegar dan mencoba untuk mengerti tentang situasi yang tengah mereka hadapi  dan  tidak harus  meninggalkan sekolahmu kan “ Yolanda  mencoba memberi saran. “saya sakit keras sampai – sampai harus di rawat di ruang ISU saya sering tak sadarkan diri dan selalu memanggil – manggil nama mamaku, saya sering  berteriak – teriak jangan bercerai – jangan bercerai, Melan mohon mama,papa, Melan mohon” setiap hari saya selalu mengigau begitu dan setelah keadaan saya mulai membaik dan mulai sadarkan diri saya melihat mama dan papa menangis di sampingku mereka berkata “ sembuhlah Melan sembuhlah sayang mama dan papa janji tidak akan pernah membuat Melan sedih lagi “ jawab Melan “ benarkah ? , bisakah mama dan papa tidak berpisah “ pintaku pada mereka “ iya Melan demi Melan kami akan rujuk kembali, tapi Melan harus sembuh, ya sayang “ Melani terisak dia menjawab “ iya Melan pasti akan sembuh jika mama dan papa tidak akan pernah berpisah dan kita akan selalu hidup bersama “  kemudian keadaan saya mulai membaik dan dokter pun sudah  memperbolehkanku pulang, senang rasanya kembali kerumah dan melihat mama dan papa selalu bersama dan terlihat begitu bahagia. Saya tidak penah tau jika bersatunya kembali mama dan papaku membuat tante Elena marah besar terhadapku, aku baru tau  dua bulan setelah itu karena tante Elena datang kerumahku dan kebetulan aku sedang sendirian di rumah, mama dan papaku pergi bekerja untuk beberapa hari sedang bibik pembantu di rumahku pergi ke pasar dan kebetulan hari itu hari minggu jadi aku  tidak masuk sekolah, aku  melihat tante Elena masuk kerumahku bersama seorang temannya yang setauku bernama Prambudi dan tante Elena memanggilnya dengan sebutan Pram. Tante Elena memanggil – manggil mamaku dan karena saya tau mama sedang tidak ada dirumah saya pun keluar dari kamar dan menemui tante Elena “mama terbang ke paris tante lusa baru pulang “ jawab ku “lalu papamu “ Tanya Tanya tante Elena “papa berlayar “ jawabku lagi “ wah bagus Pram ini saat yang aku tunggu –tunggu mereka tidak ada di rumah “ kata tante Elena kepada temannya itu, kemudian tante Elena dan om Pram naik ke atas menuju kamar mama dan papa, dan tanpa berpikir panjang mereka mengobrak abrik tempat itu seperti sedang mencari sesuatu , saya pun berteriak “ apa yang tante lakukan, apa yang  tante cari  kenapa kamar mama tante berantakin seperti ini  “ tanyaku sambil berteriak panik   “diam !” tante Elena membentaku keras sekali  “diam, jangan katakan apapun karena kamu hanya anak kecil kamu tidak akan pernah tau  jadi jangan banyak bertanya  mengerti !” wajah tante Elena berubah jadi sangat menyeramkan ketika dia mengucapkan kata – kata itu. “ini dia Elena sudah aku temukan “ tiba –tiba om Pram berteriak “ o ya, sudah kau temukan “ Tanya tante Elena  “ iya sudah semuanya,  surat – surat tanah, rumah pokoknya lengkap semua ada di sini “ jawab om Pram “ dan ada lagi kotak ini penuh dengan perhiasan mahal Elena apa mau kita ambil juga “ Tanya om Pram “tentu, juga semua uang yang ada di brangkas itu kita bawa saja semuanya “ jawab tante Elena sambil tersenyum sinis . aku pun berteriak “ jangan tante jangan mau tante bawa kemana semuanya itu “  tanyaku sambil menangis  “nantik mama dan papa gimana tante “ saya mencoba memohon “itu bukan urusan tante “ jawab tante Elena sambil menarik tanganku keluar kamar sementara om Pram membawa semua surat – surat uang dan perhiasan milik kami ke luar rumah mungkin menuju mobilnya “kamu tau Melan “ teriak tante Elena “gara – gara kamu tante tidak jadi menikah dengan papamu, kamu benar – benar menjadi penghalang buat tante “ tante Elena menjambak rambutku kuat sekali aku pun berteriak “ sakit tante aduh sakit “ tapi tante Elena tidak mau melepasku malah  dia memukulku berulang kali sambil terus berteriak dan memaki –makiku, aku  hampir tidak bisa mendengar apa yang dia ucapkan karena kerasnya pukulan tangannya benar – benar menyakiti tubuhku, sambil menangis aku mencoba  terus memohon agar tante Elena berhenti memukulku , akhirnya dia berhenti memukulku tapi matanya menatap tajam ke arahku dengan penuh kebencian, tiba – tiba tante Elena mendorongku kuat sekali sambil berteriak “ pergi dari hadapanku, pergi !” hahh  tubuhku terpental lalu jatuh dari balkon rumahku ke lantai bawah, kepalaku membentur lantai begitu keras sehingga darah banyak sekali yang keluar dari luka dikepalaku, dan bersamaan dengan itu bibik pulang dan sempat melihatku terjatuh dari lantai dua rumahku, begitu juga dengan om Pram dia berteriak “ Elena apa yang kamu lakukan !! “ , bibik mendekap tubuhku erat – erat sambil menangis “ Tolong,tolong mbak Elena  tolong non Melan,  non Melan harus di bawa ke dokter, tolong bawa non melan ke dokter , bagaimana ini. Teriak bibik sambil menangis tersedu – sedu . “non bangun non, non melan bangun “ isak bibik begitu menyayat. Om Pram mendekatiku lalu memeriksa denyut nadiku detak jantungku juga nafasku , lalu om Pram berkata “ dia sudah tidak ada, dia sudah  mati  Elena “ dengan wajah yang cemas dan bingung dia mencoba menerangkan, tante Elena ikut memeriksa tubuhku dan dia pun jatuh bersimpuh lemas, dia benar – benar tidak mengira apa yang sudah dia lakukan padaku sudah membuatku celaka dan meninggal . Lalu tante Elena mulai panik dan gelisah dia Nampak kebingungan tiba – tiba dia berkata “ bangun bik,bangun, bangun kataku cepat , cepat bereskan semua  pakaian bibik, dan pulanglah ke kampung bibik sana, dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini “ kata tante Elena sambil terus terlihat panik, “pergilah bik, bibik tidak dengar, apa bibik mau mati juga seperti melani !” tante Elena berteriak lagi kali ini bibik benar – benar merasa ketakutan lalu bergegas pergi ke kamarnya untuk mengambil semua barang miliknya sambil terus menangis. Kemudian bibik keluar dan mendekati tante Elena , tante Elena menatapnya dengan tajam lalu berkata “dengar bik, pura – puralah bibik tidak pernah tau kejadian ini, aku akan mengurus semuanya, keluarlah dari sini dan bila sampai ada orang yang tau masalah ini, saya tidak akan segan – segan lagi, saya akan membunuh bibik dengan cara yang lebih kejam lagi dari pada ini, jadi jangan pernah coba – coba untuk  melaporkan saya kalau bibik tidak mau celaka, karena pasti saya akan melakukanya, mengerti bik ! “ ancam tante Elena kepada bibik, bibik sangat ketakutan sekali diapun buru – buru pergi meninggalkan rumah kami dengan wajah yang pucat pasi. “ eh tunggu – tunggu “ tiba -  tiba Yolanda menyela dengan rasa penasarannya, “ kamu bilang kamu jatuh dari lantai dua rumahmu dan langsung mati, mati begitu?,  meninggal maksud kamu, aku masih tidak mengerti “ Yolanda menjadi agak bingung dia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja di ceritakan oleh teman barunya itu dia mencoba untuk mengerti tapi itu semakin membuatya lebih penasaran lagi. “ jelaskan padaku Melan aku tidak mengerti. “ iya Yolan memang aku meninggal pada  saat itu juga “  jawab Melani lirih “ lalu bagaimana kamu bisa melihat semua yang terjadi pada saat itu kalau memang kamu sudah meninggal “ Tanya Yolanda semakin penasaran “ itulah aku juga tidak mengerti ternyata jika kita meninggal nyawa kita keluar dari tubuh kita dan bisa melihat jelas semua yang terjadi pada diri kita setelah mati “jawab melani mencoba menjelaskan “ o.. jadi begitu “ Yolanda bergumam dengan wajah bingungnya “ lalu apa ?  jadi kamu ini apa, jelaskan padaku kenapa kamu bisa ada disini dan bagaimana aku bisa melihatmu jika kamu bukan manusia, kamu tampak nyata bukan seperti arwah gentayangan bukanya kalau hantu itu punya wajah yang menyeramkan, dan kata orang hantu itu cuman bisa menampakan diri pada malam hari, karna katanya dia akan terbakar oleh cahaya matahari tapi kenapa kamu tidak, bagaimana aku bisa percaya dengan semua ceritamu “ Tanya Yolanda lagi “ aku juga tidak tau mungkin Tuhan memberikan kekuatan yang lebih padaku agar bisa menemuimu kapan pun aku mau kalau kamu masih tidak percaya tanyalah pada bik darsih, karna dia adalah saksi dari semua yang terjadi padaku,  dia tau semuanya karena dia pernah bekerja di rumahku “ jawab Melani “ bik darsih ? “ Tanya Yolanda semakin bingung “ iya, benar “ jawab melani “bik darsih yang sekarang bekerja di rumahmu adalah bibik pembantu yang pernah bekerja di rumahku “ melani mencoba menjelaskan “ Oo.. iya aku mengerti sekarang,  lalu apa yang selanjutnya terjadi padamu setelah itu “ Tanya Yolanda serius “ tante Elena dan om Pram mengubur jasadku dibelakang rumahku, kebetulan ada galian buat WC karena WC yang lama dirumahku sudah tidak bisa di pakai lagi dan tukang bangunanya belum sempat mengecor bagian atasnya baru besok tukang itu bisa mengerjakan lagi, dan keesokan harinya ketika tukang itu datang  mereka sempat bertanya kenapa bagian bawahnya dikasih semen dan siapa yang mengerjakanya, tante Elena bilang “ o itu  tidak apa – apa teman saya yang mengerjakanya dia iseng aja daripada gak ada yang dikerjakan “ jawab tante Elena , kemudian tante Elena menyuruh tukang – tukang itu secepatnya mengecor bagian atasya “ cepet pak nantik keburu ujan “ kata tante Elena tanpa berpikir panjang mereka lansung menyelesaikan pekerjaanya, dan setelah selesai tante Elena memberi upah yang lebih pada mereka dan menyuruh agar mereka tidak usah kembali lagi kerumahku , semua karena mama dan papa tidak ada jadi tante Elena bisa leluasa melakukan semua rencananya.  Kemudian tante Elena dan om Pram meninggalkan rumahku seperti tidak pernah terjadi apa – apa. Dalam suasana yang begitu mencekam tiba – tiba mama Yolanda sudah berdiri didepan Yolanda, dan bertanya “ Yolan sepertinya mama mendengar Yolan tengah berbincang – bincang dengan seseorang, tapi kok gak ada siapa – siapa disini ? “ Tanya mama Yolanda, “ eh mama, sudah pulang ma, Yolan sampai gak tau, em itu ma ada tugas menghafal perbincangan dari sekolah, Yolan pikir mudah, ternyata susah juga “ kilah Yolanda. “ O… begitu ya sudah tidurlah hari sudah malam, beok harus bangun lebih pagi biar tidak terburu – buru kalau mau berangkat sekolah “ mamanya berkata, “ iya ma “ jawab Yolanda. Dan sejak itu mama Yolanda sering melihat Yolanda berbicara sendirian sehingga terkadang membuat mamanya bingung dan penasaran, mama Yolanda mencoba bertanya pada bik Darsih “ Apakah Yolanda memang sering  berbicara sendiri seperti yang dilihat oleh mamanya ? “ , “ iya bu, bibik juga heran terkadang non Yolan sampai menangis lo bu, tapi ketika bibik tanya katanya cuman latihan akting begitu “ , “ ya sudah “ jawab mama Yolanda . “ Nanti kalau saya ada waktu luang saya akan coba untuk mengajak Yolanda bicara, ya sudah bik ibu pergi dulu ya, jaga rumah baik – baik dan jangan lupa jaga Yolanda “ , “  iya bu “ jawab bik Darsih. Setelah mamanya pergi Yolanda segera menemui bik Darsih, “ bik “ panggil Yolanda “ iya non, ada apa, non butuh sesuatu ? “tanya bik Darsih, “ tidak, cuman ada yang mau Yolan tanyakan pada bibik, apa bibik masih sibuk ? “ jawab Yolanda, “ tidak non, semua pekerjaan sudah bibik selesaikan, tinggal kalau non mau makan siang nanti bibik siapkan “ jawab bik Darsih, “ ah, tidak bik nanti aja makanya, sini bik duduk sini “ kata Yolanda. “ Bik, dulu sebelum bibik bekerja di rumah Yolan, dimana bibik pernah bekerja ? “ tanya Yolan, “ ah, bibik pernah bekerja di … “ bik Darsih tampak bingung “ Di…, ah jauh non, memang kenapa sih non, kok non Yolan tanya begitu “ tanya bik Darsih, “ apa majikan bibik ada yang bernama Melani ? “ tanya Yolanda tegas, “ Non non Melani ?? “ tanya bibik mulai cemas, “ dari mana non Yolan tau tentang non Melan, bukannya bibik tidak pernah bercerita apa pun sama non Yolan “ tanya bibik semakin cemas, “ Bik “ panggil Yolan, “ Melani sendiri yang cerita sama Yolan kalau bibik pernah bekerja dirumahnya “ jawab Yolan, “ non Melan…? Bagaimana bisa non Yolan kenal dengan non Melan, bukannya … bukannya “ wajah bibik yang tampak bingung berubah menjadi begitu sedih, air matanya mulai tampak berlinang,  “ Bik “ panggil Yolanda “ Melani ada disini “ Yolan mencoba memberi tau “ disini “ jawab bik Darsih “ gak mungkin non, gak mungkin karena non Melan sudah, sudah “ bibik berkata terbata – bata, “ sudah meninggal maksud bibik “ jawab Yolanda, “ iya, iya non, non Melan sudah meninggal “, tangisan bik Darsih mulai pecah, dia menangis tersedu – sedu teringat semua kejadian pada waktu itu, “ bik, percayalah Melani ada disini, dia ada di dekat bibik dan mencoba memeluk bibik “ Yolanda menjelaskan, “ dimana non, dimana bibik tidak bisa melihatnya, apa benar non ada disini “, tiba – tiba bolpoint yang ada di meja menuliskan sesuatu, Melani mencoba menjelaskan lewat selarik kertas tentang keberadaannya yang membuat bik Darsih tambah terisak. “ Bik kita harus jelaskan sama mama, apa yang terjadi pada Melan, kasihan mama bik, mama benar – benar terlihat putus asa, kita harus jelaskan bik “ tulis Melani pada kertas itu. Sekarang bibik mulai percaya bahwasannya Melani memang ada di rumah Yolanda dan bibik Darsik berjanji akan mengatakan semuanya pada kedua orang tua Melani. Dan pada ketika mama Yolan menanyakan padanya kenapa Yolanda sering terlihat berbicara sendirian, Yolanda juga mencoba memberi tau tentang keberadaan Melani di rumahnya, awalnya mamanya tidak percaya dengan penjelasan Yolanda, bahkan mamanya menganggap Yolanda terlalu banyak berhalusinasi. Lalu Yolanda menyuruh Melani menunjukkan keberadaannya dengan cara menulis tentang siapa dirinya pada selembar kertas seperti yang dia lakukan pada bik Darsih. Walau sedikit syok, tapi mama Yolanda mencoba untuk mempercayainya, mama Yolanda juga berjanji akan membantu Melani untuk menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga Melani. Karena ternyata selama ini orang tua Melani menganggap bik Darsih orang yang telah mencelakakan Melani, karena ternyata di karpet bludru ruang tamu Melani masih di temukan bercak darah yang tidak sempat dibersihkan oleh tante Elena pada waktu kejadian itu, semenjak Melani menghilang mamanya seperti orang yang tidak punya semangat hidup, dia bahkan keluar dari pekerjaannya sebagai pramugari, setiap hari mama Melani hanya melamun dan menangis karena terus menerus teringat pada Melani “ dimana dia, apa yang terjadi padanya “ dia terus mengucap kata itu berulang – ulang setiap saat dan waktu, sudah bermacam cara yang papa Melani lakukan supaya mama Melani bisa hidup normal kembali, sampai – sampai papa Melani juga memutuskan hanya bekerja di kantor TNI AL saja agar mempunyai lebih banyak waktu bersama keluarganya, padahal mama Melani baru melahirkan seorang bayi perempuan yang juga cantik seperti Melani, tetapi mama Melani tampak seperti tidak perduli dengan bayi mungil itu, dan itulah yang membuat Melani sedih, seandainya bisa, Melani ingin menjelaskan semuanya pada mamanya dan memohon padanya agar menyayangi adik kecilnya sama seperti menyayanginya. Akhirnya dengan bantuan kedua orang tua Yolanda juga bik Darsih yang datang kekediaman keluarga Melani dan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, juga dengan dua orang tukang bangunan yang pernah dilarang untuk datang kerumah Melani lagi, bisa membuat kedua orang tua Melani mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, walau pada awalnya mereka begitu syok dan mama Melani sempat menangis histeris sampai berhari – hari lamanya, dan akhirnya dengan kata – kata yang ditulis Melani, tentang segala keinginan membuat mama Melani sadar dan mencoba untuk bisa menerima segala yang sudah terjadi dengan ikhlas dan berbesar hati. Kemudian mereka melaporkan tante Elena dan om Pram ke polisi, tak sampai satu minggu mereka sudah tertangkap dan diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, kini Melani sudah bisa pergi dengan tenang menghadap Illahi, apa lagi jasadnya sudah digali dan dipindahkan ke pemakaman umum dan dimakamkan secara layak, dan kedua orang tuanya sudah mengikhlaskan kepergiannya, apa lagi sudah ada Melani kecil di tengah – tengah mereka, yang tampak lucu dan menggemaskan, Melani mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Yolanda juga keluarganya Yolanda juga bisa bernafas lega karena sudah bisa membantu Melani dan membuat keluarganya hidup normal dan bahagia kembali. Yolanda kembali menjalani hidupnya seperti biasanya, dan malam ini mama dan papanya terlambat menjemputnya lagi dari tempat Lesnya, tapi kali ini Yolanda tetap menunggu di teras rumah gurunya, dia tidak mau lagi berjalan sendiri menuju rumahnya, bukannya karena dia takut bertemu Melani – Melani yang lainnya, tapi karena Yolanda sudah kelelahan dan mengantuk sehingga dia tidak sanggup untuk berjalan kaki lagi. Tak lama kemudian mama dan papanya datang menjemputnya, Yolanda segera bergegas masuk ke dalam mobilnya dan langsung melaju menuju rumahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar